Postingan

Ilusi

Ilusi Dari sudut malam, ingatanku membawa pada satu pertemuan. cahaya paling terang, mengalahkan purnama dan teduh malam. Pernah satu meja dengan kopi yang sama, namun mungkin tidak dengan perasaan, Patah hati mempertemukan, namun tidak pernah bisa menyatukan. Kita begitu dekat namun tidak pernah terikat. Entah aku yang tidak pernah tahu diri, atau memang kita sama-sama tidak pernah mengerti isi hati masing-masing. setiap pertemuan adalah alasan kebahagiaan, namun saling memiliki hanyalah ilusi. Kita memang tidak pernah ada kesepakatan untuk hidup bersama. perlahan aku sadar, angan tetaplah khayalan, menjadi nyata adalah ke tidak mungkinan yang pasti. Hari menjelma minggu menjadikan bulan. Kabarmu hanya melintas lewat unggahan ditengah kesibukan, tidak ada lagi perbincangan sehangat di meja itu, atau gelak tawa di sudut senja yang bulan lalu kita kunjungi. Kita kadang menjadi asing, terlalu banyak perbincangan lewat pesan yang berakhir ceklis dua biru, atau sekedar menjadi penonton ...

Titik temu

Ketahuilah, sebelum mengenalmu aku berada diantara ramainya kerumunan. Tersesat diantara hangatnya perasaan hingga akhirnya semua terpatahkan. Janji, harapan, dan rencana yang sudah terususun rapih akhirnya berakhir tragis. Sebelum mengenalmu, pernah hidup sebuah perasaan yang akhirnya mati ditikam kenyataan. Melumpuhkan hati untuk kembali mencintai, menjadikan setiap keramaian hanyalah sunyi. Pernah hadir sebuah rasa yang akhirnya mengukir luka, membunuh rasa menjadikan raga enggan lagi mengenal cinta. Namun kau datang dengan rasa yang berbeda, menjadi bunyi ditengah sunyi. Menuntun ku kembali melangkah dan perlahan membantu meulihkan setiap luka. Kau hadir sebagai satu-satunya embun yang menyegarkan, membasuh setiap kering hatiku. Selamanya, kau yang paling bisa memberi warna dalam setiap cerita. Denganmu, hari-hariku adalah tentang tawa. Bukan lagi tentang luka. Sepi yang kemarin hadir, berhasil kau isi dengan setiap puisi. Luka yang kemarin menganga berhasil kau isi dengan seti...

Labirin masa lalu

Sendu merangkum kenang, mengintari rongga dada, menghias kepala, dan menjadikan setiap langkah adalah relung luka paling menganga. Padahal bahagia kita pernah lebih indah dari anggun senja di akhir cakrawala. Hingga akhirnya satu tikaman tentang pengkhianatan berhasil kau tanam tepat di suburnya asmara. Kehilangan pernah begitu parah menjadikan kaki enggan kembali melangkah. Detik yang melaju hanya omong kosong, bagiku tetap saja masa lalu. luka menjadikanku labirin paling sulit, memutar balikan hati untuk kembali mengingatmu. Hatiku berpijar menyala dibakar api ketidak relaan, setiap kemesraan yang kau tunjukan lewat lini masa seakan  tidak pernah mersa bersalah,  bahwa ada satu hati yang kau tinggalkan secara keji. Berbagai cara pernah aku lakukan, untuk menghapus seluruh tentangmu dalam ingatan. nyatanya, melupakan tidak semudah mencintai. Aku terlena dalam luka, dan kau bahagia membuat harapan baru. Padahal, satu waktu pernah menjadikan kita satu, merangkum setiap janj...

Tentang Hati

Tentang Hati Terkadang, kita hanya perlu bersabar untuk menghapus masa lalu. Tidak mampu melupakanmu, bukan berarti aku tidak mampu menemukan hati yang baru. Hanya perihal waktu, akan tiba masanya semua tentangmu hanya jadi abu masa lalu. Tentang hati yang baru : Menjadikanmu satu dari ribuan kesibukan bukanlah hal gampang, banyak hal yang terlewat, terutama tentang rindu yang tidak pernah berujung temu. Terimakasih telah mengajarkan bagaimana rasanya kembali melangkah. Menuntunku, menuju hal-hal baru membawa setiap luka pada setiap tabah. Terimakasih telah menghapus segala ragu, pesonamu membawa setiap perasaan dan tidak pernah redup, ketahuilah di hatimu aku memutuskan untuk tetap hidup. Sebelum  semuanya terlampau jauh, dan di hatimu aku benar-benar utuh. Izinkan aku untuk membenarkan segala rindu, dan tidak lagi menyalahkan segala kecewa. Memelukmu dengan komitmen, agar rindu benar adanya. Biarkan kita hanya rahasia, tidak diketahui setiap manusia bukan berarti kita tid...

Luka

Orang-Orang menamainya luka Dari ujung jingga yang terlihat berbeda lebih dari biasanya, bersama dengan secangkir kopi dan ingatan tentang kata bernama luka. Orang-orang riang bersama dengan cekrek bunyi kamera, mengabadikan momen lalu membuat cerita. Berbicara tentang luka, terkadang banyak orang lupa bagaimana caranya kembali mengenal cinta. Pukat menjala duka, indah senja hanya mampu di tangkap hanya dengan lensa kamera, indah senja tidak benar-benar mampu menyembunyikan luka. Riang tawa hanya samaran dari air mata yang tak ingin terlihat. Hadir senja tidak ada bedanya dengan datangnya hujan. Ketika ingatan membawa kembali pada sebuah pelukan. Benar adanya, orang-orang datang hanya dengan senyum pura-pura, lalu kembali berduka ketika dia yang sempat menaruh luka mulai teringat. Setumpuk buku tentang rindu, dan lagu-lagu pilu menjadi list paling atas, di putar berulang kali untuk memupuk kebutuhan rindu. Ya, rindu tentang dia yang sempat hangat melingkarkan pelukan, dia juga yang...

Kapan akan mulai kembali melangkah?

Kapan akan mulai kembali melangkah? Kadang, kita terbelenggu terlalu lama oleh hal-hal yang tidak seharusnya mengurung kita pada ruang kesepian. Kita terlalu lama dipermainkan oleh rasa sakit. Kita lupa, langkah kita masih terlalu dini untuk berhenti hanya karena rasa sakit hati. Padahal, ribuan hati bahkan mungkin jutaan menanti untuk dikunjungi. Terlalu lama diam dengan ketiadaan, membuat kita merasa kita tidak lagi mempunyai apa-apa. Padahal, cinta tidak seharusnya membuat manusia seperti itu. perihal rasa sakit sebab cinta, hal yang biasa. Luka ada bukan untuk melemahkan, apalagi sampai putus asa. Ingat kembali sampai mana kita berhenti melangkah. Banyak hal yang seharusnya kita tuju, banyak tempat untuk kita mendaur ulang rasa. Sebab cinta bukan hanya soal dia yang sempat menaruh luka. Cinta adalah perihal bagaimana kita bisa membuat hati lebih berwarna. Soal dia yang sempat menaruh luka, biarkan waktu membantu melupakan segalanya, mulai kembali melangkah kakimu layak untuk ber...

Elegi Rindu

Elegi Rindu Sore di pematang, sorot mentari memantul di hitam rabutmu. Senyummu memecah indahnya senja, mengalahkan dinginnya hembusan angin. Kau berteriak memecah kesunyian, dingin yang sempat hadir mencoba mengalah. Riang tawamu tidak pernah menandakan sebuah kepergian. Banyak rencana yang seharusnya kita buat lebih banyak. Tapi biarlah, rencana itu hanya sempat menjadi angan, tidak perlu menjadi nyata. Esok, lusa, atau kapan saja, mimpi itu akan menjadi kenyataan meski bukan disini. Jauh, hanya perihal jarak. Ini bukan tentang bagaimana caranya saling melupakan. Tapi tentang bagaimana caranya mengikhlaskan dan mendoakan. Kini biarlah ku tabung semua rindu tentangmu. Tentang senyumu, manja tawamu, dan lembut suaramu. Aku akan tetap berjalan menujumu. Biar ku lewati lembah dan hamparan padang ilalang ini. Kelak, bila waktunya tiba. Sambut aku dengan senyum termanismu. Peluk hangat aku dengan ribuan kerinduan. Berjanjilah untuk tetap bisa tertawa lebar, di tempatmu kini....