Elegi Rindu

Elegi Rindu
Sore di pematang, sorot mentari memantul di hitam rabutmu.
Senyummu memecah indahnya senja, mengalahkan dinginnya hembusan angin.
Kau berteriak memecah kesunyian, dingin yang sempat hadir mencoba mengalah.
Riang tawamu tidak pernah menandakan sebuah kepergian.
Banyak rencana yang seharusnya kita buat lebih banyak.
Tapi biarlah, rencana itu hanya sempat menjadi angan, tidak perlu menjadi nyata.
Esok, lusa, atau kapan saja, mimpi itu akan menjadi kenyataan meski bukan disini.
Jauh, hanya perihal jarak. Ini bukan tentang bagaimana caranya saling melupakan.
Tapi tentang bagaimana caranya mengikhlaskan dan mendoakan.
Kini biarlah ku tabung semua rindu tentangmu.
Tentang senyumu, manja tawamu, dan lembut suaramu.
Aku akan tetap berjalan menujumu. Biar ku lewati lembah dan hamparan padang ilalang ini.
Kelak, bila waktunya tiba. Sambut aku dengan senyum termanismu.
Peluk hangat aku dengan ribuan kerinduan.
Berjanjilah untuk tetap bisa tertawa lebar, di tempatmu kini. Kau tidak akan lagi merasakan sakit.
Akan banyak langkah yang akan aku tempuh untuk menujumu.
Bersabarlah menunggu, Tuhan akan tetap disampingmu.
Dan surga akan tetap menjadi tempatmu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi paling sepi

petang paling sepi

Peluk yang pelik