Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Kopi paling sepi

Pada Kepergian yang dilahap malam, yang menelanjangi mata untuk menjadi pelacur. Yang memperkosa rasa, yang menjadikannya tak lagi berirama. Pada kepergian yang menjadikan sunyi isi kepala, Yang menghilangkan kewarasan, menggantinya dengan kebisuan. Kopiku malam ini terlalu sepi. Lebih sepi dari puisi tanpa kata, lebih sepi dari hujan tanpa air. Gelas ku malam ini terlalu melankolis, Retak dan tak lagi menyimpan bekas bibirmu. Setelah pergi itu, duka ku menjadi kekal. Setelah pergi itu, doa-doaku tak lagi memiliki wujud. Ruang rindu, 2020

Tentang sebuah perpisahan

Ada yang menikmati cemburu ketika rasa dan mendamba hanya menjadi sebuah rindu. Ada yang sadar, malam hanyalah waktu paling manja untuk melihat dia tanpa harus bertanya sedang apa. Menjelajah setiap aplikasi, membiarkan jarinya berjalan-jalan pada  setiap story yang ia buat di lain hari. Tidak jarang, sesekali membubuhkan simbol hati, pada unggahan gambar yang ia unggah dengan bahagia. Meski ribuan orang melakukan hal yang sama, baginya tidak peduli. Perpisahan membuat dia tidak lagi mengenal kewarasan. Ada yang sadar pada sebuah takdir bahwa bersama hanya akan menambah luka, ada yang sadar ketika rencana Tuhan ikut serta pada kisah dan ceritanya. Ada yang berusaha melupakan meski otak dan hati kadang tidak berjalan beriringan. Ada yang mencoba ikhlas tentang kehilangan, merasa kalah dan memilih mengakhiri sebuah pertikaian. Ada yang tidak terima, memaki dan sumpah serapah pada luka yang ia terima. Ada yang berbicara lewat airmata dan membiarkan bibirnya membisu. Ada yang memili...