Labirin masa lalu
Sendu merangkum kenang, mengintari rongga dada, menghias kepala, dan menjadikan setiap langkah adalah relung luka paling menganga. Padahal bahagia kita pernah lebih indah dari anggun senja di akhir cakrawala. Hingga akhirnya satu tikaman tentang pengkhianatan berhasil kau tanam tepat di suburnya asmara.
Kehilangan pernah begitu parah menjadikan kaki enggan kembali melangkah. Detik yang melaju hanya omong kosong, bagiku tetap saja masa lalu. luka menjadikanku labirin paling sulit, memutar balikan hati untuk kembali mengingatmu.
Hatiku berpijar menyala dibakar api ketidak relaan, setiap kemesraan yang kau tunjukan lewat lini masa seakan tidak pernah mersa bersalah, bahwa ada satu hati yang kau tinggalkan secara keji. Berbagai cara pernah aku lakukan, untuk menghapus seluruh tentangmu dalam ingatan. nyatanya, melupakan tidak semudah mencintai. Aku terlena dalam luka, dan kau bahagia membuat harapan baru.
Padahal, satu waktu pernah menjadikan kita satu, merangkum setiap janji dan merencanakan segala hal dimasa tua. lebar senyummu pernah begitu tulus, seakan tidak pernah ada lelaki lain yang terlahir di bumi ini.
Hingga jarak merenggut semua, yang tidak hanya menjauhkan raga tetapi juga ikut memisahkan perasaan. Kita di bawah cakrawala yang sama, menghirup oksigen yang sama, berpijak di bumi yang sama, namun tidak dengan perasaan. Kau mulai memilih berpindah, mengaitkan harapan pada satu hati yang tidak pernah tertulis dalam susunan rencana kita.
Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, selain mengalah dan menikmati patah hati sendirian. Aku membiarkan hati dan otak saling menyalahkan, tentang kenapa dulu terlalu percaya akan harapan. di ruang paling dasar di perasaan aku mengutukmu berulang kali, memaki dan tidak lagi mengenali diri sendiri. Nyatanya, semua tidak membuat kembali baik.
Waktu berlalu, aku membiarkan setiap ingatan tentangmu merusak segalanya. Perlahan, semua hilang dan tergantikan. Aku belajar kembali melangkah, dan menyadari apa yang salah.
Terimakasih atas lukamu yang anggun, darimu aku belajar satu hal : Perihal patah hati, cinta tidak harus selalu disalahkan.
Komentar
Posting Komentar