Ilusi
Ilusi
Dari sudut malam, ingatanku membawa pada satu pertemuan. cahaya paling terang, mengalahkan purnama dan teduh malam. Pernah satu meja dengan kopi yang sama, namun mungkin tidak dengan perasaan, Patah hati mempertemukan, namun tidak pernah bisa menyatukan. Kita begitu dekat namun tidak pernah terikat.
Entah aku yang tidak pernah tahu diri, atau memang kita sama-sama tidak pernah mengerti isi hati masing-masing. setiap pertemuan adalah alasan kebahagiaan, namun saling memiliki hanyalah ilusi. Kita memang tidak pernah ada kesepakatan untuk hidup bersama. perlahan aku sadar, angan tetaplah khayalan, menjadi nyata adalah ke tidak mungkinan yang pasti.
Hari menjelma minggu menjadikan bulan. Kabarmu hanya melintas lewat unggahan ditengah kesibukan, tidak ada lagi perbincangan sehangat di meja itu, atau gelak tawa di sudut senja yang bulan lalu kita kunjungi. Kita kadang menjadi asing, terlalu banyak perbincangan lewat pesan yang berakhir ceklis dua biru, atau sekedar menjadi penonton story tanpa pernah saling menyapa.
Pukul delapan malam di bulan setelahnya, pesan mu datang menghiasi layar utama. Ditengah kesibukan dan padatnya jadwal kerja, kau meminta pertemuan di kedai yang sama. Di Tempat kita pertama saling menyapa.
Dua jam lebih lama, aku persiapkan telinga menjadi pendengar, kau bercerita tentang pertemuan dengan satu hati paling istimewa. Padahal di depanmu aku melebarkan telinga, mencari setiap kata yang menyinggung tentang kita. nyatanya, khayalan hanya berakhir dengan kekecewaan.
Tahun yang sama di bulan ke delapan, senyummu melebar dengan sebuah undangan. Paras yang sempat menjadi mimpi, kini hanya menjadi prasasti dalam ingatan. kau resmi naik pelaminan, memaksa ku tidak lagi mengeja namamu dalam setiap doa. perlahan hati mengurai menjadi bakteri, menjadikan pandemi tak berbentuk yang mewabah pada setiap anggota badan.
Senyawa kehilangan berikut kekecewaan, menemukan senyumu dalam pelaminan. Menjadikanku lebih mengerti memilikimu memang benar-benar hanya ilusi.
Komentar
Posting Komentar