Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Kopi paling sepi

Pada Kepergian yang dilahap malam, yang menelanjangi mata untuk menjadi pelacur. Yang memperkosa rasa, yang menjadikannya tak lagi berirama. Pada kepergian yang menjadikan sunyi isi kepala, Yang menghilangkan kewarasan, menggantinya dengan kebisuan. Kopiku malam ini terlalu sepi. Lebih sepi dari puisi tanpa kata, lebih sepi dari hujan tanpa air. Gelas ku malam ini terlalu melankolis, Retak dan tak lagi menyimpan bekas bibirmu. Setelah pergi itu, duka ku menjadi kekal. Setelah pergi itu, doa-doaku tak lagi memiliki wujud. Ruang rindu, 2020

Retak

Retak Ada hujan yang jatuh secara tiba-tiba, ada tangis yang jatuh tanpa aba-aba. Ada senja yang tidak lagi menyimpan jingga, ada muram yang jatuh di terik bahagia yang sedang berbunga. Perlahan, senyumpun padam. Luntur dalam langkah yang membuat pipi basah. Retak, jarak tidak hanya menjauhkan raga, tetapi hati juga ikut terbawa. Pada ujung malam yang berhias pijar kejora, serupa suasana subuh di pegunungan. Hatiku menggigil, cemas dan ketakutan. Secarik kabar permisi meluluh lantahkan semua isi hati. Ternyata kita tidak pernah benar-benar bisa saling menjaga. Untuk pertama kali, luka mulai datang membuat lain cerita. Hambar dan begitu hampa, hatiku mulai tak berirama. Pada malam-malam yang berhias gerimis, ketakutanpun menjadi nyata. Kita tidak benar-benar bisa bertahan, semua rencana dan kenangan luluh dibias gerimis tajam tengah malam. Retak tak berirama. jantungkupun berdebar lebih dari biasanya, kau putuskan memilih cerita berbeda, ketika semua mendukung kita untuk...