Seperti Hujan Yang Jatuh


Seperti mimpi, aku kembali menemukanmu dalam keadaan yang pelik.
Kau tinggal dalam peluk kesedihan dan ratapan yang tak satu orangpun mampu menyembuhkan.
Kau bercerita di balik berisiknya jalanan, di tepi Jurang luka yang menjadikanmu lemah dan berdarah.
Aku mencoba menenangkan isak tangismu, dalam senja yang yang murung.
Menghapus airmatamu dengan tangan yang rapuh.
Jika harus jujur perihal perasaan,
Akupun merasa demikian, lukaku belum sembuh sepenuhnya.
Perihku belum sempurna untuk bisa dikatakan biasa.
Luka dan perih yang kau tinggalkan di hari yang lalu.
Tepat menikam, dan melukai hampir tidak bisa disembuhkan.
Sekian lama kau bercerita, tentang pasangaanmu yang membuatmu terluka.
 Lalu, permintaan maaf kau sampaikan menjelang akhir pembicaraan.
Mulutku membisu, dadaku bergetar.
Dengan manisnya kau meminta maaf, pada luka pahit yang kau tinggalkan di tahun lalu.
Ya, Maaf. Empat kata yang mampu membuatku kembali mampu memelukmu.
Empat kata yang ter eja cukup sempurna, hingga aku kembali merangkulmu dalam peluk bernama cinta.
Aku kembali jatuh pada pelukmu, mencoba mengulang semua dari titik terendah setelah perasaan begitu luluh lantah.
Luka yang kau ciptakan dihari yang lalu perlahan terobati dengan pelukmu.
Kita kembali pada kesepakatan, dimana melupakan masa lalu adalah sebuah keharusan.
Kita kembali pada satu ikatan tentang masa depan yang tak akan di lukai oleh penghianatan. 
Hingga hari menjelang minggu, dan bulan menuju tahun.
Aku kembali jatuh pada hujan yang basah.
Pada jurang yang curam,
Pada luka yang kau ciptakan kembali.
Seperti hujan, aku jatuh berkali-kali hingga lupa bagaimana cara memaafkanmu dikemudian hari.














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi paling sepi

petang paling sepi

Peluk yang pelik