Retak
Retak
Ada hujan yang jatuh secara tiba-tiba, ada tangis yang jatuh tanpa aba-aba. Ada senja yang tidak lagi menyimpan jingga, ada muram yang jatuh di terik bahagia yang sedang berbunga. Perlahan, senyumpun padam. Luntur dalam langkah yang membuat pipi basah. Retak, jarak tidak hanya menjauhkan raga, tetapi hati juga ikut terbawa.
Pada ujung malam yang berhias pijar kejora, serupa suasana subuh di pegunungan. Hatiku menggigil, cemas dan ketakutan. Secarik kabar permisi meluluh lantahkan semua isi hati. Ternyata kita tidak pernah benar-benar bisa saling menjaga. Untuk pertama kali, luka mulai datang membuat lain cerita.
Hambar dan begitu hampa, hatiku mulai tak berirama.
Pada malam-malam yang berhias gerimis, ketakutanpun menjadi nyata. Kita tidak benar-benar bisa bertahan, semua rencana dan kenangan luluh dibias gerimis tajam tengah malam.
Retak tak berirama. jantungkupun berdebar lebih dari biasanya, kau putuskan memilih cerita berbeda, ketika semua mendukung kita untuk tetap sama. Pijar cahaya redup seketika, menjauh dan lenyap. Ternyata, bukan hanya jarak yang membuat kita retak, tetapi lingkar peluk hangat orang yang telah lama kau kenal yang membuat semua rencana berantakan.
Pada malam yang tidak menghadirkan kehangatan itupun aku mulai mengutuk setiap yang ada. Rasa kecewa, kutumpahkan pada siapa saja. Serak, dan begitu parau suaraku memanggil berulang kali. Tetapi telingamu telah benar-benar tertutup, berikut hati yang selalu kau bagipun lenyap tak lagi memiliki arti.
Hilang, semua begitu kosong. Terpenjara dalam ruang hampa udara, aku dibalut berlapis-lapis kecewa. Tanpa suara, tanpa udara, sesak menjalar pada sudut dada. Semua berantakan, kau tak kembali, dan aku harus siap untuk sebuah kata : MELUPAKAN.
Komentar
Posting Komentar