Rindu yang Kembali

Rindu yang kembali
Ada debar berbeda ketika mataku bertemu senyummu kini, sekilas tentang ingatan masa lalu melintas tak tahu diri. Saat lantunan rindu berujung ingin bertemu masih jelas terdengar ditelinga.
Berbicara tentang rindu, sudah terlalu lama rasanya kata itu tidak lagi bermuara ditelinga. Hingga suatu hari kabar tentangmu muncul di linimasa tempat semua tawa tidak benar-benar nyata. Sepenggal kisah yang kau tulis tentang pernikahanmu menjadi topik paling hangat di lingkar kepala. Rasanya, baru kemarin kita berbicara tentang pelaminan. Secepat kilat waktu membuktikan kita hanya berencana tanpa benar-benar membuktikan.
Aku sedikit membuka kembali memori yang sempat ku buang, perihal tawa yang pernah merekah mengalahkan segala yang ada. Pada sunyinya suasana saat tenggelamnya surya aku mengadu sembari merapal kisah yang dulu ada. Menyusun kembali tangga menuju segala tempat yang pernah kita singgahi bersama. Tentangmu, tidak selamanya hilang.
Bersama deru napas yang sesak saat mendengar kabarmu kini, aku membanting waktu berkali-kali. Menyalahkan logika yang dulu sempat membuatmu melangkah pergi. keputusan yang tidak pernah kita tulis dalam susunan rencana. Tentangmu kembali, tapi hadirmu hanyalah ilusi.
Rindu itu kembali, membawaku pada jurang penyesalan.
Aku sedikit berandai-andai. Tentang masa dimana kita yang terlalu tenggelam dalam peluk ego masing-masing. Jika saja kita bisa sedikit memahmi, mungkin kisah masih sempat terjadi. Tentang cemburu yang kau pelihara, dan tentang egoku yang selalu menghiasi kepala. Aku terlambat menyadari, tidak seharusnya pergi selalu menjadi solusi.
Tetaplah tersenyum, rawat baik-baik semua rasa yang kini kau jaga pada lelaki pilihanmu. Kelak, mungkin kita akan saling berjumpa pada masa dimana kita telah benar-benar lupa akan cerita yang pernah kita buat. Tentangmu, hujan yang kembali pada pelupuk mata.
Terimakasih pernah saling merawat tawa, tetaplah bahagia sebab kita hanya ditakdirkan saling menjaga sebelum kita memilih untuk saling lupa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kopi paling sepi

petang paling sepi

Peluk yang pelik